Ad. 2. Narimo
Istilah narimo, sering disalah artikan.
Narimo yang sebenarnya, adalah sifat manusia yang dalam segala hal, berusaha semaksimal mungkin (atau seoptimal mungkin), tetapi sejak awalnya selalu menyadari dan selalu siap bahwa Tuhanlah yang menentukan. (Man purposes, God disposes).
Kekecewaan demi kekecewaan yang bisa berakibat (strain), jarang menghinggapi orang yang “narimo”.
Ad. 3. Ngalah
Hanya orang yang menang yang bisa mengalah.
Mengalah yang sebenarnya, adalah kalau kita sampai merasakan senang atau bahagia.
Misalnya, seorang ayah yang punya anak berumur 4 tahun. Sehabis melihat tinju di televisi, lalu mengajak bertinju ayahnya, di tempat tidur. Sang ayah mengalah, pura pura knock out. Anaknya senang, dan berlagak menjadi juara. Tentu saja, ayahnya yang mengalah itu merasa senang dan bahagia.
Sering kita alami, menghadapi seseorang yang ngotot ingin menang, karena pengetahuan dan pengalamannya yang masih dangkal. Kita mengalah, karena menganggap menghadapi kanak kanak. Kalau kita memang menyayangi orang itu, kita merasa senang melihat dia puas.
Ad. 4. Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae.
(Cinta, kasih dan sayang kepada apa dan siapa saja).
Jadi kita selalu berusaha mencintai dan mengasihi apapun yang ada, dan siapapun yang kita hadapi. Mencintai apa saja, maksudnya mencintai benda, mencintai pekerjaan, mencintai binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Mencintai siapa saja, adalah mencintai sesama manusia, tanpa pilih pilih. Menghadapi siapapun, kita landasi rasa cinta pada diri kita.
Gambaran tentang ini.
Romo Herucokro Semono, suatu saat ditanya. “Kalau lakunya Putro diumpamakan anak sekolah, apa tandanya kelasnya sudah tinggi?”
Jawaban beliau : “Tandanya Putro lakunya sudah jauh, kalau jangankan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan sekalipun, semua mencintai kamu, karena kamu senantiasa menanam cinta kasih”.
(“Tandane Putro lakune wis adoh, lamun ojo maneh kang asipat jalmo manungso, kewan tetuwuhan pisan podo tresno marang jeneng siro, amargo siro tansah nandhur katresnan”).
|